Akhir pekan seharusnya jadi hari untuk bersantai bagi Rahman Hidayah, 30 tahun. Tapi tidak pada Sabtu dua pekan lalu. Liburnya tak tenang karena diserang rasa ingin ke belakang. Selama sehari penuh, hajatnya itu tidak juga bisa terlaksana.

“Saya mendadak menderita wasir,” kata karyawan sebuah perusahaan swasta di Kuningan, Jakarta Selatan, itu. Akibat wasir, Rahman kesulitan buang air besar (BAB). Masalahnya bukan cuma sekali ia merasa ingin buang air dan gagal. “Dalam sehari itu sampai belasan kali dan saya sungguh sangat menderita,” katanya.

Ia mengaku bukan orang yang biasa sulit ke belakang. Sebab, biasanya rutin ia ke kamar mandi sebelum berangkat kerja. Rahman juga suka makan sayur dan rajin minum air putih, juga tak punya riwayat mengidap wasir sebelumnya.

Setelah bertanya kanan-kiri dan menggali informasi lewat Internet, ia pun berhipotesis: wasir yang diderita akibat terlalu lama duduk. “Sehari dan sepekan sebelumnya saya memang berjam-jam duduk di belakang meja,” katanya.

Dokter spesialis penyakit dalam, Ari Fahrial Syam, menguatkan dugaan Rahman. “Duduk berlama-lama memang berisiko menimbulkan ambeien,” katanya, Rabu lalu. Meski bukan penyebab utama ambeien, ia melanjutkan, kebiasaan duduk yang buruk bisa sangat mengganggu organ tubuh bagian dalam.

Ambeien yang diderita Rahman, kata Fahrial, masih kategori ringan meski harus dikonsultasikan dengan dokter. Bila apes, ia akan menderita perdarahan di dubur. Luka di dubur ini akan menyebabkan usus lengket dan harus mendapat perawatan intensif. “Saat itu terjadi, pembuluh darahnya melebar dan mengganggu kerja organ dalam dari pinggang ke bawah,” katanya.

Rahman boleh merasa lega. Ia hanya menderita wasir ringan, yang cepat bisa disembuhkan. Sebuah penelitian di Swedia awal tahun lalu menyimpulkan hal yang lebih mengejutkan. Terlalu lama duduk menyebabkan berbagai penyakit, bahkan kematian.

Dokter Robert D. McBane dari Mayo Graduate School of Medicine, Mayo Clinic, Rochester, Minnesota, menyebutkan kasus-kasus kematian saat berlama-lama duduk dipicu karena terjadi thrombophilia, yaitu suatu kondisi yang menyebut darah mudah membeku. Faktor ini bisa diperparah karena kecenderungan genetik.

Penggumpalan darah di pembuluh darah vena ditandai dengan rasa sakit yang menjepit dan kaki seperti ditusuk-tusuk. Terkadang disertai nyeri di dada. Penyebabnya karena gumpalan darah bergerak menuju paru-paru. “Kalau ini terjadi, bisa menyebabkan kematian,” kata McBane.

Ada lagi sebuah kisah dari Chris Simmons, seorang pakar komputer asal Inggris. Ia roboh setelah 12 jam nongkrong di depan komputer. Beberapa hari kemudian ia batuk darah dan dokter yang memeriksa menyimpulkan Chris mengalami pulmonary embolism atau biasa disebut E-Trombosis, yaitu pembekuan darah yang akhirnya menyumbat pembuluh darah.

Dalam kasus Chris, pembekuan terjadi dan terbawa hingga jantung. Darah yang beku itu kemudian menyumbat pembuluh darah kecil di paru-paru. Kasus serupa dialami seorang warga Selandia Baru, yang tewas akibat selama 80 jam terus-menerus berada di depan komputer.

Untuk kasus-kasus ringan, lama duduk di kursi dapat menyebabkan berat badan berlebih. Juga menyebabkan pinggang melebar. Saat ini terjadi, berdampak pada tekanan darah dan gula darah. Serta mempengaruhi metabolisme tubuh yang bisa memicu diabetes dan jantung.

Duduk berlama-lama juga menyebabkan nyeri pinggang. Termasuk menyebabkan hernia nucleus pulposus, yaitu saraf tulang belakang terjepit di antara kedua ruas tulang belakang. Selain menyebabkan nyeri pinggang, rasa kesemutan menjalar ke tungkai sampai ke kaki. Bahkan bila parah, dapat menyebabkan kelumpuhan.

Fahrial menyebutkan, inti dari kebiasaan duduk berlama-lama ini karena tekanan dasar dari pinggul ke bawah. Saat itu terjadi, pembuluh darah akan tertekan di bagian bawah tubuh. Dan mengganggu peredaran darah di seluruh bagian tubuh. “Banyak-banyak bergerak, jangan bekerja hanya dalam posisi duduk,” katanya.

TIPS :
Bila Harus Duduk Lama

1. Bangkitlah dari kursi bila sudah duduk paling lama sekitar 2 jam.
2. Biasakan melakukan gerakan lain, seperti berjalan, naik tangga, atau merebahkan diri.
3. Lakukan aktivitas ini paling cepat sekitar lima menit atau sampai kaki terasa sudah rileks dan aliran darah kembali lancar.
4. Jangan duduk pada kursi yang terlalu tinggi, duduk dengan membengkokkan pinggang. Atau duduk tanpa sandaran di pinggang bawah.
5. Hindari duduk dengan mencondongkan kepala ke depan agar otot leher tak terganggu.
6. Duduk yang benar adalah duduk dengan punggung lurus dan bahu berada di belakang, serta bokong menyentuh belakang kursi.

Mustafa Silalahi/berbagai sumber

Apa Komentar Anda?

Komentar

Leave a Reply